Sabtu, 17 September 2011

METODE SUGESTOPEDIA UNTUK PEMBELAJARAN BAHASA

METODE SUGESTOPEDIA UNTUK PEMBELAJARAN BAHASA
Oleh Bohri Rahman
A.    LATAR BELAKANG.
Metode sugestopedia ini berasal dari Bulgaria. Metode ini pertaman kali dikembangkan oleh seorang pendidik, psikoterapi, dan ahli fisika bernama George Lozanov sekitar tahun 1978. Lozanov percaya bahwa teknik relaksasi dan konsentrasi akan menolong para pelajar membuka sumber bawah sadar mereka dan memperoleh serta menguasai kuantitas kosakata yang lebih banyak dan juga struktur-struktur yang lebih mantap daripada yang mereka pikirkan (Tarigan,2009:88).
Lozanov mendasarkan metode ini pada berbagai disiplin ilmu seperti yoga, musik klasik, parapsikologi, dan terapi otogenetik, yang menurut dugaan dapat meningkatkan percepatan pembelajaran 5 sampai 50 kali dari yang biasa. Melalui latihan dengan teknik khusus, para siswa dimungkinkan untuk mengembangkan supermemoriesnya dan mempelajari kuantitas materi bahasa yang lebih besar dalam waktu yang sangat singkat.
Penjelasan singkat tersebut membangiktkan rasa ingin tahu yang besar mengenai seluk beluk metode sugestopedia atau yang dikenal juga dengan metode Lozanov ini.
B.     TUJUAN
Tujuan dari penggalian mengenai metode ini adalah untuk mengetahui, memahami dan diharapkan mampu untuk menerapkan metode ini pada praktik pembelajaran yang riil di sekolah. Selanjutnya penulis memaparkan hasil penggalian ini pada teman-teman dengan maksud agar apa yang menjadi dasil dari penggalian mengenai metode sugestopedia ini dapat  digeneralisasikan kepada teman-teman, denga harapan agar bisa diterapkan disekolah masing-masing.
C.    METODE SUGESTOPEDIA DALAM PENGAJARAN BAHASA.
1.      Berkenalan dengan Metode Sugestopedia
Sugestopedia merupakan seperangkat rekomendasi pembelajaran yang diturunkan dari sugestologi yang dimaksudkan oleh Lozanov sebagai suatu ilmu pengetahuan mengenai telaah bersistem terhadap pengaruh-pengaruh yang tidak rasional atau tidak sadar yang secara konstan ditanggapi oleh insan manusia (Stevick dalam Richards & Rodgers, 2006:100, Tarigan,2009:89). Metode ini mencoba untuk memamfaatkan pengaruh-pengaruh yang tidak rasional tersebut serta mengalihkan dan mengarahkan untuk mengoptimalkan pembelajaran. Ciri-ciri sugestopedia yang paling mencolok adalah(Tarigan,2009:89):
a.       dekorasi kelas;
b.      perabot/mebel kelas;
c.       penyusunan/ pengaturan kelas;
d.      penggunaan musik;
e.       pelaku guru yang otoritatif.
Dengan tegas Lozanov mengatakan bahwa tidak ada satu sektor pun dalam kehidupan umum yang tidak memanfaatkan sugestologi(Richards & Rodgers, 2006:100, Tarigan,2009:89). Oleh karena itu, tuntutan pembelajaran sugestologi ini bersifat sangat dramatik. Selanjutnya Lozanov mengatakan memerosisasi dalam pembelajaran yang menggunakan metode sugestopedia seakan-akan mempercepat 25 kali lipat dari pembelajaran yang dilaksanakan denga metode konvensional (Richards & Rodgers,2006:100).
Barang kali kita dapat memahami metode sugestopedia ini sebagai suatu teori yang berupaya memberikan bagaimana caranya perhatian dimanipulasikan untuk mengoptimalkan pembelajaran dan ingatan. Sejumlah peneliti berupaya mengenali pernyataan mental yang optimal yang memberi kemudahan bagi penghafalan dan ingatan.
Salah satu ciri metode sugestopedia yang mencolok adalah pemusatan musik dan ritme musik bagi pembelajaran. dengan demikian, sugestopedia mempunyai tali kekerabatan dengan penggunaan musik fungsional lainnya, khususnya terapi. Gaston (Richards & Rodgers,2006:100, Tarigan,2009:91) mengemukakan serta membatasi tiga fungsi musik dalam terapi, yaitu:
a.       memberi kemudahan bagi pembentukan serta pemeliharaan hubungan pribadi atau ralasi-relasi personal;
b.      menghasilkan peningkatan harga diri melalui peningkatan kepuasan diri dalam penampilan musik;
c.       menggunakan potensi ritme yang unik untuk membangkitkan daya energi dan menimbulkan ketentraman.
Fungsi butir ketiga itulah yang merupakan salah satu butir yang dimanfaatkan oleh Lozanov dalam pengunaan musik untuk membuat para pembelajar  santai disamping memberi struktur, teladan, dan penjelasan penyajian materi linguistik.
Sugestopedia ini dikembangkan untuk menolong para siswa menghilangkan perasaan bahwa mereka akan gagal. Dengan demikian membantu mereka mengurangi rintangan dan berbagai hambatan dalam pembelajaran. Lozanov yakin bahwa pembelajaran bahasa dapat terjadi dalam kecepatan yang lebih tinggi dari pada yang berlangsung seperti biasanya. Dia menegaskan bahwa ketidak efesienan kita adalah bahwa kita mengadakan aneka rintangan psikologis bagi pembelajar, sehingga kita tidak menggunakan kekuatan yang penuh dan utuh yang kita miliki.
2.      Sugetopedia di Amerika.
Metode Lozanov ini ternyata mendapat perhatian dari berapa pakar pendidikan dan pengajaran di Amerika. Akan tetapi, tidak semua prinsip sugestopedia yang digunakan di Bulgaria dapat di gunakan di Amerika. Penelitian di Amerika Serikat lebih terpusat pada unsur-unsur metode Lozanov daripada metode Lozanov sebagai keseluruhan dan pada variabel-variabel yang tercakup dalam pertemuan yang dilaksanakan dikelas (Tarigan,2009:137).
Untuk melaksankan metode lazonav ini secara efektif, setidaknya ada tiga unsur yang dianggap penting yaitu (Tarigan,2009:137):
a.       kelas yang aktraktif, yang menarik dan suasana kelas yang menyenangkan serta menyegarkan;
b.      guru yang berpribadi dinamik yang mampu memainkan peranan materi dengan baik dan dapat mendorong para siswa untuk belajar giat
c.       suatu keadaan siap-siaga santai pada diri siswa diperoleh dengan, antara lain, latihan-latihan fisik untuk menghilangkan rasa bosan serta mengurangi ketegangan jasmani; latihan-latihan menenangkan pikiran; pernapasan yang dalam dan berirama untuk meningkatkan konsentrasi penyajian bahan secara berirama sesuai dengan latar belakang musik.
Agar dapat menggunakan sugestopedia pada suasana akademik Amerika, perubahan-perubahan perlu diadakan. Secara definisi, program bahasa yang cocok dan sesuai bagi orang-orang Bulgaria tidak dapat digunakan bagi para siswa Amerika (Tarigan,2009:139). Permainan-permainan, sketsa-sketsa, dan kegiatan-kegiatan kelas umumnya bergantung pada prakeberadaan program-program Amerika dan pada bakat enovatif guru atau peneliti Amerika.
Sumbangan utama para peneliti Amerika bagi perkembangan metode sugestopedia ini adalah transformasi sistem Bulgaria yang dirancang bagi pengajaran kursus-kursus bahasa intensif menjadi sesuatu yang sesuai dengan pengajaran berbagai pokok bahasan dalam situasi sekolah Amerika yang normal. Lebih khusus lagi, para peneliti Amerika telah menetapkan suatu bagan yang mantap bagi prosedur-prosedur relaksasi yang digunakan pada kelas belajar. Melalui kata dan gerak isyarat, guru Amerika mulai membentuk dan menetapkan suatu suasana sugestif dan positif agar para siswa memahami bahwa pembelajaran efektif akan membuahkan suatu pengalaman yang menyenangkan.
3.      Pendekatan
Sugesti adalah jantung sugestopedia. Dalam banyak hal dan bagi banyak orang, sugesti justru menyulap visi tatapan yang tajam, buaian pandangan sayu, dan perintah-perintah sang hipnotis yang diulang secara monoton. Lozanov mengakui kemungkinan asosiasi bagi sugestopedia, tetapi menurut pandangannya sendiri justru memisahkan sugestopedia dari konsep klinis hipnotis yang sempit sebagai jenis pernyataan kesadaran yang statis, mirip tidur, serta dapat diubah (Tarigan,2009:93). Lebih lanjut Lozanop menegaskan bahwa yang membedakan modelnya dari hipnotis dan bentuk-bentuk pengawasan pikiran dan ingatan lainya ialah bahwa bentuk-bentuk lain tersebut kekurangan rasa sugesti desugestif-sugestif dan gagal menciptakan suatu pendirian yang konstan yang dicadangkan melalui psiko-releksasi yang konsentratif (Tarigan,2009:94).
Ada enam komponen teoritis penting yang dapat dianggap sebagai tempat beroprasinya desugesti dan sugesti serta merupakan jalan masuk bagi cadangan-cadangan, sebagai berikut (Richards & Rodgers,2006:101-102, Tarigan,2009:94-97):
a.       Otoritas, wibawa, wewenang (Authority)
Orang akan sangat mudah mengingat dan akansangat terpengaruh oleh informasi yang datang dari sumber yang berwibawa, dari sumber yang dapat dipercaya.
b.      Infantilisasi, sifat kekanak-kanakan (Infantilization)
Otoritas juga dipergunakan untuk menyarankan suatu hubungan guru dengan siswa seperti hubungan orang tua dengan anaknya sendiri. Dalam peranan sang anak ini, sang pembelajar turut mengambil bagian dalam bermain peran, permainan, nyanyian, dan latihan-latihan senam yang membantu siswa.
c.       Sumber ganda (Double-planedness).
Sang pembelajar tidak hanya belajar dari pengaruh pengajar langsung tetapi juga dari lingkungan tempat pengajaran itu berlangsung. Dekorasi kelas yang ceria, latar belakang musik, bentuk dan potongan kursi-kursi, dan pribadi sang guru dianggap sama pentingnya dalam pengajaran dengan bentuk pengajaran itu sendiri. Semua itu merupakan sumber ganda yang turut meningkatkan dan memantapkan hasil pengajaran yang diinginkan oleh pengajar dan pembelajar.
d.      Intonasi, ritme, dan konser pseudo-pasif
Aneka nada dan irama yang mengiringi bahan yang disajikan turut membantu menghindarkan serta menghilangkan rasa bosan dan jemu melalui kemonotonan, ulangan, dan mendramatisir serta memberi makna terhadap materi linguistik.
Baik intonasi maupun irama itu dikoordinasikan dengan latar belakang musik. Latar belakang musik membantu membujuk serta menimbulkan suatu sikap santai, yang oleh Lozanov diacu sebagai konser pseudo-pasif (Richards & Rodgers,2006:102, Tarigan,2009:96). Keaadaan dan suasana ini dirasakan sebagai suatu yang optimal bagi pembelajaran, dan hal bahwa ketegangan dihilangkan dan daya konsentrasi bagi materi baru semakin meningkat. Karena peranan musik merupakan pusat dalam pembelajaran sugestopedia, wajar apabila hal itu mendapat perhatian secara lebih terperici.
Jenis ataupun tipe musik memang bersipat kritis bagi keberhasilan pembelajaran. Gagasan bahwa musik dapat memengaruhi tubuh dan pikiran kita tentu saja bukan merupakan hal baru. Kuncinya adalah mendapatkan jenis musik yang tepat bagi jenis pengaruh yang tepat, yang diinginkan. apabila hal itu tidak memenuhi pola yang tidak diinginkan, perubahan hakikat kesadaran yang diinginkan pun tidak akan terjadi dan hasilnya sudah tentu jelek dan mengecewakan.
Lozanov (Tarigan,2009:96) menganjurkan serangkaian gerakan-gerakan lambat (60 denyutan dalam satu menit) dalam nada 4/4 bagi konserto-konserto baroque, yang dirangkaikan bersama menjadi konser yang memakan waktu kira-kira setengah jam. Dia mencatat bahwa dalam konser-konser seperti itu, tubuh menjadi santai, pikiran menjadi tajan dan siaga (Ostrander dalam Tarigan, 2009:97).
Kecepatan penyajian bahan yang akan dipelajari dalam pola irama disesuaikan dengan ritme. Metode sugestopedia menggunakan putara delapan detik untuk pengukuran data pada waktu jeda lambat. Selama atau setelah empat denyutan pertama putaran tersebut terdapat keheningan. Selama empat denyutan kedua, sang guru menyajikan bahan. Ostrander beserta rekan-rekanya (Tarigan,2009:97) menyajikan berbagai kejadian mengenai mengapa peralihan pada musik Largo Baroque  ini ternyata begitu manjur. Mereka mencatat bahwa ritme musik memengaruhi irama-irama tubuh, seperti denyutan jantung.

4.      Rancangan Bangun
Tujuan metode sugestopedia bermaksud menyampaikan keterampilan berbicara yang lebih baik dan lancar secara cepat. Kelas-kelas dilaksanakan empat jam sehari, enam hari seminggu. Fokus sentral setiap unit adalah dialog yang terdiri atas sekitar 1200 kata dengan daftar kosa kata dan komentar tatabahasa. Diaog-dialog itu digolongkan denga leksis dan tata bahasa. Rupanya, metode ini mendasarkan tuntutan pembelajarannya pada bagaimana penguasaan siswa terhadap daftar pasangan kosakata yang sangat  banyak, dan tentu saja menyarankan kepada siswa bahwa mereka perlu untuk mencapai tujuan itu untuk kepentingan mereka sendiri.
Akan tetapi, Lozanov (Tarigan,2009:99) menekankan bahwa peningkatan daya ingatan bukanlah keterampilan yang terpisah, tetapi merupakan hasil atau akibat dari stimulasi personalitas yang positif dan konprehensif. Menurut lozanov, tujuan pengajaran bukanlah penghafalan, tetapi pemahaman  dan pemecahan masalah secara kreatif.
Silabus kursus dengan metode sugestopedia ini berlangsung selama 30 hari dan terdiri atas 10 menit studi. Kelas-kelas diadakan selama 4 jam sehari, 6 hari dalam seminggu. Pada hari pertama, pengerjaan unit baru, sang guru mendiskusikan isi umum (bukan struktur) dialog unit itu. Para pembelajar menerima teks dialog denga terjemahan bahasa asli dalam kolol-kolom yang paralel. Sang guru menjawab setiap pertanyaan yang menarik atau yang berhubungan dengan dialog itu. Kemdian, dialog itu dibacakan dua atau tiga kali setelah diskusi tersebut agar lebih mantap. Hari kedua dan hari ketiga digunakan untuk perluasan primer dan skunder, teks tersebut. Perluasan dasar terdiri atas imitasi, tanya jawab, pembacaan dialog, dan pengerjaan ke-150 butir kosakata baru yang tersaji dalam unit itu. Perluasan lanjutan merupakan dorongan kepada para siswa untuk membuat kombinasi dan produksi baru berdasarkan dialog. Cerita yang paralel dan sesuai dengan dialog pun dibacakan. Para siswa dilibatkan dalam percakapan dan turut berperan kecil memberi responsi terhadap teks yang dibacakan itu.
Selama kursus, terdapat dua kesempatan untuk menggeneralisasikan bahan. Di tengah-tengah kursus, para siswa didorong mempraktikkan bahasa sasaran dalam latar tertentu, seperti pada hotel atau restoran-restoran. Pada akhir kursus, kegiatan diarahkan pada penampilan yang memungkinkan setiap siswa turut berpartisipasi. Para siswa melakukan permainan berdasarkan materi kursus  tersebut. Kaidah-kaidah, aturan-aturan, dan peran-peran pun disusun rapi, tetapi para siswa diaharapkan berbicara secara wajar sesuai dengan situasi, dan bukan berdasarkan hafalan.
Peranan pembelajar pada metode ini adalah para siswa secara sukarela mengikuti kursus sugestopedia, tetapi dalam kesukarelaannya itu mereka diharapkan patuh pada peraturan kelas dan segala kegiatannya. Sikap mental para pembelajar sangat kritis bagi keberhasilan, dan itulah sebabnya mengapa para pembelajar harus menjauhi bahan-bahan yang dapat mengganggu pikiran dan godaan lainnya serta membenamkan diri ke dalam prosedur metode itu. Para pelajar sama sekali tidak boleh memikirkan, memanipulasi atau menelaah bahan yang diajarkan tetapi harus memelihara suasana pseudo-pasif yang merupakan wadah materi tersebut berguling serta menyusup kedalam diri mereka.
Secara ideal,kelompok-kelompok pembelajar menciptakan situasi yang merupakan wadah pembelajar sehingga dapat disugesti dengan baik dan kemudian menyajikan materi linguistik sedemikian rupa sehingga dapat mendorong terciptanya penerimaan dan penyimpanan oleh pembelajar. Lozanov (Tarigan,2009:102) menjabarkan beberapa perilaku guru yang diharapkan dapat menunjang penyajian tersebut yaitu:
a.       tunjukkanlah kepercayaan penuh pada metode itu.
b.      perlihatkan perilaku yang tidak mudah puas dalam hal tata krama dan cara berpakaian;
c.       aturlah dengan tepat dan perhatikanlah secara cermat tahap-tahap awal prses pengajaran; ini menyangkut pemilihan dan penayangan musik serta ketepatan waktu;
d.      peliharalah sikap yang serius dan sungguh-sungguh terhadap kursus itu; berikan dan buatlah tes-tes dan beresponlah secara bijaksana terhadap makalah-makalah yang jelek;
e.       berikan penekanan pada sikap global terhadap materi, bukan pada sikap-sikap analitis;
f.       peliharalah antusiasme yang sopan.
Peranan bahan pengajaran dalam metode ini dalah diharapkan bahan pengajaran terdiri atas bahan-bahan penunjang langsung, terutaman sekali teks dan rekaman, dan bahan penunjang tak langsung, seperti peralatan tetap dalam kelas dan musik (Tarigan,2009:104). Buku teks hendaknya mengandung daya emosional, kualitas leterer, dan bersipat menarik perhatian. Penggunaan bahasa sebaiknya diperkenalkan sedemikian rupa sehingga tidak mengalihkan perhatian para siswa dari isi pelajaran dan tidak membingungkan mereka. Tema-tema traumatik dan materi leksikal yang tidak disukai atau yang menimbulkan kebencian hendaknya dijauhi (Lozanov dalam tarigan,2009:104).
Walaupun tidak berkaitan erat dengan bahasa, tetap saja lingkungan pembelajaran memainkan peranan penting dalam sugestopedia sehingga unsur-unsur penting lingkungan itu perlu diperhitungkan sebaik mungkin. Lingkungan  terdiri atas penampilan kelas, perabot/ mebeler, dan musik.

5.      Prosedur
Bancroft (Tarigan,2009:106) menjelaskah bahwa kelas bahasa yang berlangsung selama 4 jam itu mempunyai tiga bagian yang berbeda. Bagian pertama, dapat kita sebut oral revieu section atau bagian tinjauan lisan. Bahan-bahan yang dipelajari sebelumnya dipakai sebagai dasar untuk diskusi oleh guru dan dua belas siswa di kelas. Semua peserta duduk dalam satu lingkaran pada kursi mereka yang dirancang-bangun secara khusus, dan diskusi itupun berlangsung menyerupai satu seminar. Sidang ini dapat mencakup apa yang disebut studi makro dan studi mikro. Dalam studi mikro, perhatian khusus ditujukan pada tata bahasa, kosakata dan tanya jawab yang cermat. Sementara dalam studi makro, penekanan diletakkan pada kegiatan bermain peran dan gerakan yang lebih luas, konstruksi-konstruksi bahasa enovatif.
Dalam bagian kedua, bahan baru disajikan dan didiskusikan. Ini terdiri atas kegiatan memeriksa suatu dialog baru beserta terjemahannya dalam B1 dan mendiskusikan setiap masalah mengenai tata bahasa, kosakata, isi yang dianggap oleh guru memang penting atau yang ingin diketahui oleh siswa.
Bagian ketiga, yaitu samadi dan penayangan musik merupakan salah satu ciri yang membuat sugestopedia sangat terkenal. Lozanov (Tarigan, 2009:107) menjelaskan sebagai berikut:
Pada permulaan pertemuan, semua percakapan berhenti selama satu atau dua menit, dan guru mendengarkan musik yang datang dari pita rekaman. Dia menunggu dan menyimak pada beberapa bagian atau paragraf agar dapat masuk kedalam suasana hati atau jantung musik itu dan kemudian mulai menceritakan teks baru itu. Suaranya diatur sehingga selaras dengan frasa-frasa musikal. Para siswa mengikuti teks itu pada teks mereka yang memuat terjemahan setiap pelajaran dalam B1 mereka. Diantara bagian pertama dan bagian kedua, konser itu terdapat jeda atau kesenyapan yang khidmat beberapa menit. Dalam beberapa kasus bahkan jeda yang lebih lama dapat diberikan untuk mengizinka para siswa bergerak sejenak. Sebelum permulaan bagian kedua konser itu,ada lagi beberapa menit jeda dan beberapa frasa musik diperdengarkan kembali sebelum sang guru melai membaca teks. Kini para siswa menutup buku teks mereka dan mendengarkan pembacaan guru. Pada bgian akhir, para siswa secara senyap meninggalkan ruangan. Mereka tidak disuruh untuk mengerjakan pekerjaan rumah tentang materi itu. Terkecuali diharapkan membaca teks satu kali secara sekilas sebelum tidur dan sesudah bangun dipagi hari.

6.      Falsafah Sugestopedia
Stevick (Tarigan,2009:109) melihat sugestopedia didasarkan pada :
a.       Tiga asumsi, yaitu:
ü  Pembelajaran melibatkan fungsi-fungsi ketaksadaran pembelajar disamping fungsi-fungsi kesadaran;
ü  bahwa orang dapat belajar lebih cepat daripada yang biasa mereka lakukan;
ü  bahwa pembelajar dihalangi oleh : 1) norma-norma yang telah diajarkan masyarakat kepada kita; 2) tidak adanya keharmonisan; 3) kegagalan memanfaatkan segala daya akibat adanya kemalasan pada kebanyakan orang dalam kebanyakan waktu
b.      Tiga Strategi, yaitu:
ü  Menghilangkan norma-norma
ü  Menghilangkan tensi-tensi ketegangan;
ü  Menghindari pengenalan norma-norma pembatas dan rintangan ketegangan pada temapat mereka.
c.       Tiga jenis sarana, yaitu:
ü  Sarana psikomotorik;
ü  Sarana artistik;
ü  Sarana pedagogik.
d.      Tiga jenis kriteria, yaitu
ü  Prinsip Kemudahan dan keceriaan;
ü  Prinsip kesatuan kesadaran dan ketik sadaran;
ü  Prinsip interaksi sugestif.

7.      Sifat-sifat Sugestopedia.
a.       Pembelajaran diberi kemudahan dalam lingkungan yang santai serta menyenagkan.
b.      Siswa dapat belajar dari yang tersaji dalam lingkungan itu, sekalipun perhatiannya tidak diarahkan ke situ (pembelajaran perifeil).
c.       Apabila siswa memercayai dan menghargai wibawa guru, maka dia akan menerima dan mengingat informasi lebih baik.
d.      Sang guru hendaknya mengakui bahwa para pembelajar akan membawa beberapa hambatan psikologis kedalam situasi pembelajaran. Dia akan berupaya men-desugesti hal tersebut.
e.       Mengaktifkan imajinasi para siswa akan membantu pembelajaran.
f.       Sang guru berupaya meningkatkan kepercayaan para siswa dan pada dirinya sendiri bahwa mereka merupakan para pembelajar yang berhasil.
g.      Dengan jati diri yang baru ini perasaan aman para pembelajar kian tinggi dan membuat mereka lebih terbuka.
h.      Dialog yang dipelajari siswa merupakan bahasa yang bisa mereka gunakan segera.
i.        Apabila perhatian meeka terlepas dari bentuk bahasa, dan terarah pada proses komunikasi, para siswa akan belajar lebih baik.
j.        Sang guru hendaknya mengintegrasikan sugesti-sugesti positiftak langsung kedalam situasi pembelajaran.
k.      Sang guru hendaknya menyajikan  dan menjelaskan tata bahasa dan kosa kata tetapi tidak memikirkan hal itu terlalu lama.
l.        Salah satu cara membuat makna kian jelas adalah melalui terjemahan kedalam bahasa ibu (B1).
m.    Komunikasi berlangsung pada dua sisi: pada satu sisi pesan linguistik disajikan, pada sisi lain adalah faktor-faktor yang mempengaruhi pesan linguistik itu.
n.      Suasana pseudo-pasif, seperti suasana ketika seseorang mendengarkan konser , sangat ideal untuk menanggulangi kendala psikologis dan memperoleh keuntungan yang memuaskan bagi pengajaran.
o.      Pembedaan antara sadar dan setengah sadar memang paling kabur.oleh karena itu, pembelajaran optimal dapat terjadi.
p.      Dramatisasi merupakan cara untuk memanfaatkan materi secara hidup dan terarah.fantasi mengurangi kendala-kendala terhadap pembelajaran.
q.      Seni murni memungkinkan sugesti-sugesti menyelusup kedalam bawah sadar. Oleh karena itu seni hendaknya diintgrasikan sebanyak mungkin kedalam proses pengajaran.
r.        Sang guru hendaknya membantu siswa untuk menggunakan bahan sebaik mungkin.
s.       Musik dan gerakan memperkuat pemahaman materi linguistik.
t.         Dalam suasana bermain, perhatian sadar siswa tidak terpusat pada bentuk-bentuk linguistik, tetapi lebih cenderung pada pemakaian bahasa
u.      Kesalahan memang dapat ditolerir, penekanannya pada isi, bukan pada bentuk.
8.      Kelebihan dan Kekurangan Metode Sugestopedia.
a.       Kelebihan.
ü  Memberikan ketenangan dan kesantaian;
ü  Menyenangkan atau menggembirakan;
ü  Mempercepat proses pembelajaran;
ü  Memberikan penekanan pada perkembangan kecakapan berbahasa
b.      Kelemahan.
ü  Hanya dapat dugunakan bagi kelompok kecil;
ü  Menjengkelkan dan menggelisahkan bagi orang-orang yang tidak menyukai hayden dan penggubah lagu klasik lainnya;
ü  Biaya yang terlalu mahal;
ü  Belum ada ketentuan dan persiapan bagi tingkat menengah dan lanjutan;
ü  Untuk pemahaman membaca dan menyimak terlalu terbatas;
ü  Bahan masukan secara pedagogis dipersiaokan terlalu bersifat eksklusif;

D.    BENTUK PELAKSANAAN MEDEL SUGESTOPEDIA DALAM PEMBELAJARAN
RENCANA PELAKSANAAN PEMELAJARAN
(RPP)
Nama Sekolah
:
MTs NW Tanak Beak Barat
Mata Pelajaran
:
Bahasa Indonesia
Kelas/Semester
:
IX/1
Standar Kompetensi
:
1.          
Kompetensi Dasar
:
1.1     
Indikator
:
1.         
Alokasi Waktu
:
2  x  40 menit
A.      Tujuan Pemelajaran
1.      Siswa dapat menghapal kosa kata baru
2.      Siswa dapat menggunakan kosa kata baru itu dalam kehidupan mereka sehari hari.
B.       Materi Pemelajaran
Dialog
C.     Metode Pemelajaran
1.    Pemodelan
2.    Seminar.
D.      Langkah-langkah Pembelajaran
1.      Kegiatan Awal
a.    Apersepsi.
b.    Mendengarkan alunan musik pengantar.
c.    Melepaskan ketegangan fisik dan psikis dengan gerakan-gerakan fisik secara ringan.
2.      Kegiatan Inti
a.    Siswa mendengarkan dialog yang dibacakan oleh guru, sesuai dengan ilustrasi musik.
b.    Siswa mengikuti pembacaan dialog yang dilakukan oleh guru dengan membaca teks mereka didalam hati.
c.    Musik penganti dan suasana kelas dibiarkan senyap.
d.   Pembacaan dialog kembali dilakukan oleh guru dengan mengikuti irama musik pengantar.
e.    Siswa mendengarkan pembacaan dialog tersebut dengan mentup teks mereka.
f.     Siswa menyimpulkan sendiri isi dialog yang dibacakan oleh guru.
g.    Guru meminta kepada siswa untuk membaca ulang dialog yang sudah dibacakan, sekilas ketikamereka berangkat tidur dan sekilas setelah mereka bangun tidur.
3.      Kegiatan Penutup
Siswa dengan perlahan dan penuh kesenyapan meninggalkan kelas denga tertib.
E.       Sumber Belajar
1.    Teks dialog
F.       Penilaian 
1)      Teknik                               : Nontes
2)      Bentuk instrumen              : Unjuk kerja
Rubrik pengamatan siswa dalam proses pemelajaran
Nama
Partisipasi
Motivasi
Kerja Sama
Inisiatif















       
Rubrik penilaian hasil kerja kelompok
No
Aspek
Deskriptor
Ya
Tidak
1




2




3




4





Mengetahui,                                                    Tanak Beak Barat, 30 Juni 2010
Kepala MTs NW  Tanak Beak Barat                          Guru Mata Pelajaran

(....................................)                                           (....................................)
E.     KESIMPULAN
Setelah melakukan penggalian dan pembahasan mengenai model sugestopedia ini, penulis menyimpulkan, bahwa model yang dikembangkan oleh Lozanov ini didasari oleh tiga observasi, yaitu yang pertama, bahwa orang mungkin saja belajar dengan kecepatan yang lebih tingi daripada apa yang biasa kita sebut sebagai keterbatasan performasi insani. Kedua, bahwa pembelajaran merupakan peristiwa global dalam pengertian hal itu melibatkan seluruh pribadi. Ketiga, bahwa seseorang secara konstan memberi responsi terhadap berbagai ragam pengaruh yang sangat banyak jumlahnya, yang beberapa diantaranya adalah sadar dan rasional, tetapi kebanyakan justru tidak sadar. Dimana sugestologi justru berkenaan dengan studi sistematik mengenai pengaruh-pengaruh tidak sadar tersebut.

F.     DAFTAR PUSTAKA
Padeta, Mansoer.1991.Linguistik Terapan.Plores-NTT: Nusa Indah.
Richards, Jack C.2006.Approach and methods in Language Teaching: A
          Description and Analysis. Cambridge, London: Cambridge University
          Press.
Tarigan, Henry Guntur.2009. Metode Pengajaran Bahasa.bandung:
          Angkasa Bandung.














LEMBAR DISKUSI:
Pertanyaan :
Ibu Rohayati, S.Pd
1.      Pada simulasi yang bapak lakukan tadi saya tidak melihat pembelajran berbicara. Pembelajar hanya mendengarkan dialog yang dibacakan, kenapa?.
2.      Apakah bapak pernah mencoba metode sugestopedia ini?
3.      Apa yang akan dilakukan apabila sulit untuk memutar musik di kelas, apakah ada alternatif lain?
Ibu Dewi Budi Perwati, S.Pd
1.      Apakah metode sugestopedia ini ada kaitannya dengan Quantum Teaching, kalau ada, bagaimana?
2.      Bagaimana dekorasi kelas yang sesuai dengan metode sugestopedia ini?
3.      Saya memperhatikan dialog yang disajikan pada simulasi tadi tidak menggunakan bahasa baku. Menurut saya sebaiknya dialog yang dilakukan adalah dialog yang menggunakan bahasa baku, kenapa demikian?
Ibu Mahdalena, S.Pd
1.      Apakah musik klasik justru akan membuat pembelajar mengantuk?
2.      Bagaimana jika mati lampu, atau tidak ada listrik ditempat pembelajaran?
JAWABAN.
Pertanyaan Ibu Rohayati
1.      Seperti itulah uniknya metode ini. Metode ini tidak dimaksudkan agar pembelajar langsung praktik di kelas. akan tetapi, apa yang mereka pelajari bisa mereka gunakan dalam keseharian mereka.
2.      Belum.
3.      Musik merupakan ciri khusus dari metode ini. Dengan musik pikiran seseorang bisa menjadi lebih tenang. Alternatif lain selain musik mungkin digunakan pada metode lain.

Jawaban untuk pertanyaan Ibu Dewi Budi Purwati, S.Pd.
1.      Metode ini memiliki kaitan dengan metode Quantum Teaching, karena sama-sama mengajak pembelajar untuk belajar dengan santai tampa beban. Perbedaanya adalah, metode sugestopedia harus menyertakan musik dalam pengajaran dan terbebasnya pembelajar dari tugas.
2.      Dekorasi kelas yang diinginkan oleh metode ini adalah sedapat mungkin ruang belajar itu seperti ruang bersantai. Yaitu dengan warna cat dinding dan aksesoris yang tidak menjemukan pembelajar, namun tentu saja pernak pernik yang dipajang harus menunjang proses pembelajaran.
3.      Dalam penerapan metode ini, tidak diutamakan menggunakan bahasa baku, namun yang diutamakan adalah kosa kata atau bahasa yang dapat dengan segera digunakan oleh pembelajar. Dengan kata lain, dialog yang diperdengarkan haruslah bahasa sehari-hari yang bebas dari kekangan bahasa resmi atau bahasa baku. Bukan tidak diajarkan tentang bahasa baku, akan tetapi sekilas saja dan pembelajar tidak di anjurkan berlarut-larut dalam memikirkan kaedah kosa kata tersebut.
Jawaban pertanyaan Ibu Mahdalena, S.Pd.
1.      Inilah salah satu kelemahan metode ini. Tidak semua orang menyukai konser musik klasik.
2.      Jika pada satu daerah tidak ada listrik, atau dalam keadaan mati lampu. Maka metode ini tidak dapat berlangsung dengan baik. Karena metode ini harus terlaksana dalam satu situasi yang santai.    

1 komentar: